Dari SD, aku adalah siswi yang berprestasi. Aku selalu memperoleh nilai tertinggi di kelas dan lulus SD dengan predikat “lulusan terbaik” di sekolahku. Kemudian aku melanjutkan sekolah ke SMP yang sesuai dengan rayon (jaman dulu belum bebas pilih SMP, masih pake sistem rayon).

Awal masuk SMP, aku masuk 10 besar walaupun tidak menjadi yang terbaik seperti sewaktu SD dulu. Tapi karena tidak ada tuntutan dari orang tua di bidang pendidikan, jadi aku bisa menerima hal itu dan menganggapnya sebagai hal yang wajar. Beberapa bulan setelah masuk SMP, aku terkena sakit tifus. Hal tersebut mengakibatkan turunnya nilai raportku (kalo nggak salah ada merahnya). Tapi untungnya aku bisa naik kelas dan lulus SMP dengan predikat lulusan terbaik kedua di SMP ku.

Aku melanjutkan ke SMU favorit pilihanku, disini aku masuk dengan urutan > 100. Artinya masih ada > 100 orang yang memiliki nilai lebih baik daripada aku. Di SMU ini prestasiku cukup lumayan. Aku selalu masuk ke dalam 10 besar, walaupun tidak pernah menjadi yang terbaik di kelasku. Pada saat kelulusan SMU pun aku mendapatkan nilai yang cukup besar dan lulus masuk PTN favorit.

Di perguruan tinggi, aku bukanlah yang terbaik. Persaingan semakin ketat dan aku pun semakin malas. Singkat kata, aku lulus kuliah dengan IPK yang rendah (2,6). Bahkan untuk mendaftar PNS pun IPK ku tidak cukup. Menyedihkan sekali. Aku pun menjadi malas untuk melamar pekerjaan, karena disitu selalu ditulis : IPK Min. 2,75.

Aku kerja serabutan, ikutan proyek sana sini walaupun bayarannya sedikit. Dalam hatiku aku berniat untuk mencari pengalaman dan menambah daftar CV. Selama hampir setahun aku kerja serabutan menjadi konsultan dan ikutan beberapa proyek. Hal ini membuatku mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Aku pun berniat untuk meneruskan kembali kuliahku ke pascasarjana.

Aku mengumpulkan uang untuk pendaftaran kuliah pascasarjana. Uang kuliah aku tangguhkan hingga akhir semester. Sehingga aku baru bayaran kuliah pada semester selanjutnya. Pada tempo 6 bulan itulah aku kuliah sambil kerja untuk mengumpulkan uang bayaran kuliah. Tak disangka, aku mendapatkan beasiswa pada awal semester kedua (karena waktu semester-1 aku dapat IPK : 4.0). Beasiswa yang aku dapatkan berupa beasiswa full (uang kuliah dan uang tunjangan hidup). How lucky I am ^_^

Aku benar-benar menyadari, betapa keinginan kita yang kuat itu dapat membukakan pintu keluar menuju jalan yang kita inginkan. Benar sekali kata pepatah : Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

Buat yang IPK nya di bawah standar, jangan berkecil hati. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak jalan dan masih banyak cara untuk menjadi lebih baik. Jangan terpaku pada IPK yang kecil. IPK yang kecil masih bisa dapet beasiswa kok. IPK kecil masih bisa maju.

Saat ini aku bekerja pada sebuah perusahaan yang cukup besar dan ternama dengan gaji 2 digit. Hal ini tentunya tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Dulu, aku selalu murung dan sedih karena susah mendapatkan pekerjaan gara-gara IPK kecil. Tapi aku sadar IPK ku kecil karena malas kuliah, kemudian aku memperbaikinya dengan mencari motivasiku sendiri. Aku menemukan motivasi untuk sekolah lagi dan membuktikan bahwa sebenarnya aku bisa!

About these ads